BuletinMalut.com.HALBAR- Masyarakat Desa Toniku, Kecamatan Jailolo Selatan, Halmahera Barat (Halbar) berikan dukungan penuh pekerjaan breakwater yang dilaksanakan Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku Utara (Malut) .
Salah satu tokoh pemuda Desa Toniku, Fino mengatakan, bahwa polemik pengambilan material breakwater di desanya merupakan hal yang keliru karena telah mencatut nama BWS Maluku Utara.
“Yang mengambil material itu adalah dari kontraktor dan BWS Maluku Utara tak tau lokasi tersebut. Yang menuduh pihak Balai ini merupakan hal yang keliru,” ujarnya. Kamis (23/10/2025).
Lanjutnya, yang memberikan informasi itu seharusnya melakukan konfirmasi kepada Pemerintah Desa supaya permasalahannya jelas agar tidak terjadi salah paham. Antara Pemerintah Desa, kontraktor serta BWS Maluku Utara.
Menurutnya, bahwa tudingan yang ditujukan ke pihak balai merupakan hal yang keliru dan itu juga pihaknya menilai mengganggu pembangunan breakwater yang saat ini sementara dikerjakan.
“Saya minta kepada pihak-pihak yang tak mengetahui persis persoalan supaya turun langsung ke lokasi melakukan pengecekan agar tak terjadi polemik yang berdampak pada pembangunan breakwater,” jelasnya.
Dikatakan, pembangunan breakwater di desanya sangat bermanfaat karena sudah hilangkan keresahan masyarakat selama ini ,lantaran ombak yang selalu mengantam pemukiman di pesisir pantai.
“Kami harap agar pembangunan breakwater ini dapat dikerjakan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Semoga pekerjaan pembangunan ini tak ada lagi oknum-oknum yang mengganggunya,”pungkasnya.
Sementara ditempat yang berbeda, Direksi Teknik Pekerjaan Pembangunan Kontruksi Breakwater Pantai Toniku BWS Maluku Utara, Hamka A.Hi Hafel, menjelaskan, proyek ini telah ditandatangani kntraknya pada 9 September 2025.
“Dan pekerjaan harus diselesaikan pada Desember 2025 dengan durasi pekerjaan yaitu kurang lebih 114 hari dan semoga cuaca tetap baik sehingga tak mengganggu jalannya pembangunan,” katanya.
Olehnya itu, masyarakat di desa ini sangat mendukung pembangunan breakwater itu. Dan kemudian pihaknya memperdayakan masyarakat setempat untuk bekerja dalam proyek ini.
Meski begitu, pembangunan tersebut bakal hilangkan keresahan yang dimana selama ini ketika cuaca buruk ombak menghantam permukiman warga yang di pesisir pantai.
Dia membeberkan, pihaknya bekerja dalam sehari maksimalnya hanya bisa mencapai 4 jam lantaran harus menyesuaikan dengan pasang surut air laut. Kendalanya cuman itu dilapangan.*(red).













