BuletinMalut.com.TERNATE-Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-XII Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) tahun 2026 resmi dibuka Benteng Oranje Kota Ternate. Kegiatan ini dihadiri berbagai daerah yang tergabung dalam JKPI.
Wali Kota Ternate, M.Tauhid Soleman dalam sambutannya, mengatakan, pada masa kini telah diperhadapkan realitas politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta tata kelola pemerintahan daerah penuh dengan dinamika kemudian tantangan yang sudah tentu berbeda atas tatanan dimasa lalu.
Lanjutnya,isu keadilan sosial, ketimpangan ekonomi yang berdampak pada dimensi kehidupan lainnya tentu ini dapat hadapi dengan ragam strategi, salah satunya adalah melalui perbaikan tata kelola politik dan pelayanan publik.
“Misi bersama kita adalah terciptanya tata kelola pemerintahan yang ekstraktif serta responsif dan meningkatkan kemampuan daerah dalam penyediaan pelayanan publik yang berkualitas sebagai antitesis terhadap politik kolonial opresif di masa lampau,” ujar Tauhid. Rabu (26/8/2026).
Menurutnya, konsep ekstraktif ini perlu dimaknai positif, yakni kemampuan untuk menggali potensi lokal secara bijaksana dan adil, didukung oleh prinsip, setiap warga masyarakat memiliki kedudukan yang sama di mata hukum, kesamaan hak dan kesempatan dalam peroleh pelayanan.
Dikatakan, manifestasi nyata ini diturunkan semangat keadilan. Jika politik global masa lalu menciptakan hirarki, kini politik lokal
harus dipastikan kesetaraan dan responsivitas. Belajar dari sejarah bahwa perpecahan dan ketidakadilan internal adalah celah yang selalu dimanfaatkan oleh kekuatan asing.
“Terlebih kita hidup dalam era perang proksi dan perang narasi dengan situasi global dikawasan Timur Tengah yang berdampak di tatanan kehidupan masyarakat pelosok-pelosok sekalipun,” jelasnya.
Meski begitu, menghadapi tantangan dan problematika pembangunan daerah khususnya di masyarakat perkotaan, dan itu sekiranya identitas budaya lokal yang berbasis nilai luhur,penguatan kelembagaan sosial dalam bingkai kearifan lokal selalu dipegang teguh untuk sepenuhnya.
Olehnya itu, rempah-rempah bukan hanya komoditas namun tetapi ia adalah senjata politik menarik seperti Romawi, Tiongkok, Arab, Persia, Portugis, Spanyol, Inggris, hingga VOC Belanda di perairan Nusantara.
“Pilihan tematik Rakernas ke-XII mengingatkan kita semua akan kejayaan sejarah masa lalu yang kekayaan akan sember daya alam sekaligus epos kepahlawanan
para leluhur dan pendahulu kita bukanlah sebagai subjek pasif semata, melainkan aktor ulung terlibat aktif dalam dinamika politik dan perdagangan global pada saat yang bersamaan juga ikut mempertahankan kedaulatan atas kekayaan alam dimasa lampau,” kisahnya.
Dia mengatakan, Rakernas JKPI Ke-XII di Ternate akan berlangsung sejak tanggal 26 sampai 30 Agustus 2026 adalah sebuah momentum penting bagi kota-kota pusaka di Indonesia yang pernah menyatu dalam diplomasi dan interaksi sosial ekonomi hingga politik serta keagamaan dalam jalur perdagangan rempah dimasa lalu.
Rempah bukan sekadar slogan, melainkan sebuah pengalaman kedaulatan, sebuah proses terus berlangsung. City Branding-Ternate Kota Rempah merupakan sebuah
seruan untuk aksi kolektif. Ia memadukan kebanggaan sejarah, kecerdasan dalam berinovasi ekonomi dan perdagangan, serta ketegasan dalam menegakkan politik tata
kelola yang bersih dan merakyat.
Catatan dimasa lampau merekam bangsa dengan rempah sebagai identitas hari ini, dan dengan segala kemegahan penderitaan sejarahnya, berdiri sebagai episentrum sejati dari hasrat dunia terhadap rempah-rempah.
Masa lalu sejarah bangsa tak hanya tentang sejarah sebuah titik di peta dunia,melainkan poros menentukan arah niaga samudra dan perebutan kekuasaan antarbangsa.
“Saatnya kita untuk merevitalisasi dengan kesadaran penuh menjawab tantangan hari ini dan hari esok bagi masa depan bersama dalam tatanan kehidupan masyarakat
global yang lebih baik,” tutupnya.*(Ril/red).








