Oleh : Septia Ramadhani, Mahasiswi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Khairun Ternate
Kalau ditanya daerah yang paling sibuk dibicarakan sekarang di Indonesia Timur, mungkin salah satunya adalah Maluku Utara.
Setiap hari yang muncul hampir selalu soal tambang, hilirisasi, investasi, smelter, tenaga kerja, sampai pertumbuhan ekonomi yang katanya tertinggi di Indonesia. Nama-nama seperti Weda, Lelilef, Obi, sampai Halteng sekarang terasa begitu dekat di telinga anak muda Maluku Utara.
Dan Memang Tidak Bisa Dipungkiri, Industri Mengubah Banyak Hal.
Orang tua mulai berharap anaknya cepat kerja di perusahaan. Anak Sekolah Menengah Atas (SMA) sudah bicara soal masuk site. Mahasiswa semester awal mulai cari koneksi supaya nanti bisa masuk industri setelah lulus.
Bahkan sekarang ada semacam kebanggaan baru di tongkrongan anak muda “Anak tambang e”. Kalimat itu sekarang terdengar keren.
Karena realitasnya memang begitu. Gaji besar, fasilitas ada, perputaran uang cepat. Di tengah keadaan ekonomi yang semakin keras, siapa juga yang tidak tergoda. Tapi makin ke sini saya makin sering berpikir, terutama sebagai mahasiswa manajemen di FEB Unkhair:
kalau semua anak muda Maluku Utara mau lari ke tambang, siapa yang nanti berfikir untuk daerah ini?
Karena jujur saja, kita sekarang terlalu sibuk bicara soal uang berputar, tapi jarang bicara soal manusia yang ikut terbawa di dalamnya.
Anak muda sekarang hidup dalam situasi yang aneh. Di satu sisi daerah berkembang cepat, tapi di sisi lain banyak yang sebenarnya bingung dengan hidupnya sendiri.
Kita dipaksa tumbuh di tengah standar baru:
umur muda harus cepat berhasil,
harus cepat punya uang,
harus cepat mapan.
Akibatnya banyak anak muda sekarang tidak lagi punya mimpi besar. Mimpinya dipendekkan keadaan.
Yang penting kerja dulu.
Yang penting gaji dulu.
Yang penting survive dulu.
Sampai-sampai kuliah pun sekarang kadang cuma jadi formalitas.
Datang kampus, absen, pulang.
Diskusi sudah sepi. Budaya baca makin hilang. Mahasiswa lebih sibuk cari info lowongan daripada cari pengetahuan baru. Dan yang paling saya rasa, banyak mahasiswa sekarang sebenarnya capek berpikir.
Karena Hidup Sudah Terlalu Bising.
Buka TikTok isinya orang flexing gaji tambang.Buka Instagram lihat teman sudah kerja duluan. Buka LinkedIn semua orang terlihat sukses. Akhirnya tanpa sadar kita hidup dalam perlombaan yang bikin semua orang takut tertinggal. Padahal tidak semua hal harus cepat.
Sebagai anak Maluku Utara, saya justru merasa takut kalau daerah ini suatu saat hanya ramai industrinya, namun tetapi sepi pemikirnya. Kita bangga ekonomi naik tinggi, tapi apakah anak mudanya ikut maju kualitas berpikirnya?
Karena pertumbuhan ekonomi tidak otomatis melahirkan generasi yang kuat.
Kalau anak mudanya hanya diajarkan jadi pekerja tanpa diajarkan cara membaca keadaan, maka nanti kita cuma jadi penonton di tanah sendiri. Dan ini bukan omong kosong.
Coba lihat sekarang, banyak masyarakat lokal yang akhirnya cuma jadi lapisan paling bawah dalam rantai industri besar. Sementara yang pegang keputusan, yang punya modal, yang atur arah permainan, kebanyakan datang dari luar.
Sedangkan kita, Masih sibuk berdebat siapa paling cepat diterima kerja. Padahal untuk daerah ini sebenarnya tidak kekurangan potensi.
Maluku Utara punya laut.
Punya rempah.
Punya pariwisata.
Punya hasil perikanan.
Punya budaya.
Punya anak-anak muda kreatif.
Tapi sayangnya kita terlalu sering diajarkan untuk jadi pencari kerja, bukan pencipta sesuatu. Sebagai mahasiswa manajemen, saya merasa kampus seharusnya tidak cuma bicara teori bisnis dan angka-angka ekonomi. Kampus harus jadi tempat anak muda belajar membaca realitas daerahnya sendiri.
Kenapa Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal susah naik kelas, kemudian banyak potensi daerah cuman jadi bahan mentah. Dan masyarakat disekitar industri terkadang tetap kesulitan ekonominya. Anak muda sekarang terkesan lebih bangga kerja keluar dari pada membangun daerah sendiri
.Pertanyaan-pertanyaan begitu justru penting.
Karena kalau mahasiswa cuman sibuk untuk mengejar IPK tanpa punya keresahan terhadap daerahnya, lalu bedanya kita dengan robot apa. Saya rasa masalah terbesar anak muda Maluku Utara hari ini bukan malas.
Kita sebenarnya rajin.
Rajin cari uang.
Rajin kerja.
Rajin survive.
Tapi kita mulai jarang meluangkan waktu untuk benar-benar berpikir supaya daerah ini mau dibawa ke mana. Dan kita mau jadi apa di dalam perubahan besar ini. Sebab, kalau semua orang hanya fokus bertahan hidup hari ini, tidak akan ada yang benar-benar memikirkan masa depan.
Mungkin hal itu yang paling berbahaya jika anak muda sekarang jarang berfikir kalau tambang suatu saat bisa saja habis. Kalau kualitas manusia ikut habis daerah ini akan kehilangan lebih jauh banyak.













